Jakarta, 4 Juni 2026 – Kekhawatiran mulai dirasakan para perajin tempe di Jambi seiring melemahnya nilai tukar rupiah yang nyaris menyentuh bahkan sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memberikan tekanan besar terhadap industri tempe skala kecil dan menengah yang selama ini sangat bergantung pada pasokan kedelai impor. Para pelaku usaha mengakui bahwa perubahan kurs dolar biasanya tidak langsung dirasakan dalam hitungan hari karena sebagian bahan baku masih berasal dari stok lama. Namun, dalam waktu sekitar dua pekan ke depan, dampak pelemahan rupiah diperkirakan mulai terlihat ketika pasokan baru masuk dengan harga yang telah menyesuaikan nilai tukar terkini. Situasi ini membuat banyak perajin mulai menghitung ulang biaya produksi untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga bahan baku.
Pelemahan rupiah menjadi perhatian karena Indonesia masih mengandalkan impor untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan kedelai nasional. Ketika nilai tukar dolar meningkat, biaya pembelian kedelai dari luar negeri secara otomatis ikut naik. Kondisi tersebut akan berdampak langsung terhadap pelaku usaha tempe yang memiliki margin keuntungan relatif tipis. Banyak perajin kecil tidak memiliki ruang yang cukup besar untuk menyerap kenaikan biaya produksi dalam jangka panjang. Akibatnya, mereka sering dihadapkan pada pilihan sulit antara menaikkan harga jual atau mengurangi ukuran produk agar tetap dapat bertahan di tengah tekanan biaya yang meningkat.
Dalam beberapa kasus sebelumnya, para perajin memilih mempertahankan harga jual agar tidak kehilangan pelanggan. Strategi yang sering digunakan adalah memperkecil ukuran tempe atau menyesuaikan volume produksi. Langkah tersebut dinilai lebih mudah diterima konsumen dibandingkan kenaikan harga yang terlalu tajam dalam waktu singkat. Namun, jika pelemahan rupiah berlangsung lebih lama dan harga kedelai terus meningkat, ruang untuk melakukan penyesuaian semacam itu akan semakin terbatas. Banyak pelaku usaha akhirnya harus mempertimbangkan kenaikan harga jual sebagai langkah terakhir untuk menjaga keberlangsungan usaha mereka.
Para pengamat ekonomi menilai bahwa sektor usaha mikro berbasis pangan merupakan kelompok yang paling cepat merasakan dampak gejolak nilai tukar. Berbeda dengan perusahaan besar yang memiliki cadangan modal dan strategi lindung nilai, pelaku usaha kecil cenderung bergantung pada kondisi pasar harian. Ketika harga bahan baku naik secara signifikan, kemampuan mereka untuk menyesuaikan biaya menjadi lebih terbatas. Oleh karena itu, pergerakan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS saat ini menjadi perhatian serius bagi berbagai sektor yang menggunakan bahan baku impor, termasuk industri tempe. Nilai tukar rupiah sendiri pada awal Juni tercatat mendekati level Rp18.000 per dolar AS setelah mengalami tekanan akibat berbagai faktor global dan domestik.
Di Jambi, tempe bukan hanya menjadi komoditas usaha rumahan, tetapi juga salah satu bahan pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat setiap hari. Stabilitas harga tempe memiliki pengaruh terhadap daya beli masyarakat karena produk ini dikenal sebagai sumber protein yang relatif terjangkau dibandingkan berbagai alternatif lainnya. Jika harga kedelai terus naik dan berdampak pada harga tempe, masyarakat berpotensi merasakan efek berantai berupa meningkatnya biaya kebutuhan pokok. Karena itu, perkembangan nilai tukar rupiah dan harga kedelai internasional kini menjadi perhatian tidak hanya bagi pelaku usaha, tetapi juga konsumen.
Sejumlah pelaku usaha berharap kondisi pasar valuta asing dapat kembali stabil sehingga tekanan terhadap harga bahan baku tidak berlangsung terlalu lama. Mereka juga berharap adanya langkah-langkah yang mampu membantu menjaga ketersediaan pasokan kedelai dengan harga yang lebih terjangkau. Dalam situasi seperti saat ini, kemampuan mempertahankan keberlangsungan usaha menjadi tantangan utama bagi para perajin yang sebagian besar beroperasi dalam skala kecil dan menengah. Ketidakpastian harga membuat banyak pelaku usaha memilih bersikap hati-hati dalam melakukan pembelian bahan baku maupun ekspansi produksi.
Ke depan, nasib perajin tempe di Jambi diperkirakan akan sangat ditentukan oleh perkembangan kurs rupiah dan harga kedelai dalam beberapa pekan mendatang. Jika nilai tukar berhasil stabil dan tekanan terhadap harga impor mereda, pelaku usaha masih memiliki peluang untuk mempertahankan harga jual seperti saat ini. Namun apabila dolar terus bertahan di level tinggi atau bahkan kembali menguat, maka tekanan biaya produksi akan semakin besar dan berpotensi memengaruhi harga tempe di pasaran. Dua minggu ke depan menjadi periode yang sangat penting bagi para perajin untuk melihat sejauh mana dampak pelemahan rupiah benar-benar terasa terhadap usaha yang mereka jalankan sehari-hari.





