Raline Shah Kejutkan Publik dengan Debut sebagai Sutradara Film Dokumenter Alam

Jakarta, 7 Juli 2025 — Aktris dan filantropis Raline Shah mengejutkan publik dengan debutnya sebagai sutradara film dokumenter berjudul “Suara Air, Suara Hutan”, yang akan tayang perdana di ajang Bali International Nature Film Festival (BINFF) 2025. Film ini menyoroti krisis ekologi di pedalaman Kalimantan Timur dan perjuangan komunitas adat mempertahankan wilayah sumber air mereka dari ekspansi industri tambang.

Langkah Raline ini dinilai sangat berani karena beralih dari dunia glamor perfilman ke ranah dokumenter lingkungan yang cenderung sunyi, berat, dan berisiko secara politik.


Dari Karpet Merah ke Hutan Tropis

Dalam konferensi pers di Jakarta, Raline mengaku bahwa proyek ini berawal dari perjalanannya ke kawasan Wehea Forest bersama LSM lokal tiga tahun lalu.

“Saya melihat anak-anak yang harus berjalan 6 kilometer demi air bersih. Saya sadar, ini bukan hanya isu lokal, tapi soal masa depan kita semua. Saya harus bicara, dan kamera adalah bahasa saya sekarang.”

Proses syuting berlangsung selama 10 bulan di hutan tropis dengan tim dokumenter kecil. Raline terlibat langsung sebagai sutradara, produser, dan narator utama.


Film yang Mendengar Alam dan Masyarakat

“Suara Air, Suara Hutan” menggunakan pendekatan dokumenter puitik dengan:

  • 🎥 Sinematografi alami, tanpa pencahayaan buatan

  • 🎙️ Narasi reflektif disampaikan dengan puisi dan kutipan adat

  • 🔊 Suara alam asli — rintik hujan, dengus angin, nyanyian burung endemik

  • 📜 Wawancara dengan tetua adat, aktivis muda, dan ibu-ibu penenun lokal


Respon Positif Dunia Film dan Aktivis Lingkungan

Sineas dan kritikus memuji Raline atas komitmennya keluar dari zona nyaman selebriti. Aktris senior Christine Hakim menyatakan:

“Dia membuktikan bahwa bintang film sejati tidak hanya bersinar di layar — tapi juga saat membawa cahaya ke tempat yang gelap dan dilupakan.”

Film ini telah masuk seleksi Best Environmental Feature di festival dokumenter Asia Pasifik dan ditayangkan secara terbatas di pusat komunitas dan sekolah alam di berbagai daerah.


Kesimpulan

Raline Shah menunjukkan bahwa selebriti tidak harus hanya tampil — tapi bisa menjadi penyampai suara alam dan masyarakat. Debutnya sebagai sutradara dokumenter adalah langkah progresif dan menyentuh, membuktikan bahwa kecantikan sejati terletak pada keberanian untuk membela yang tak terdengar.

“Suara Air, Suara Hutan” bukan sekadar film — tapi seruan hati seorang perempuan untuk bumi yang sedang terluka.

Related Posts

Close to You – The Carpenters: Lagu Romantis yang Lembut

Awal Popularitas The Carpenters “(They Long to Be) Close to You” adalah lagu yang dirilis pada tahun 1970 dan menjadi titik balik bagi kesuksesan besar The Carpenters. Lagu ini membawa…

Don’t Stop Believin’ – Journey: Harapan dan Optimisme Hidup

Lagu Rock Abadi yang Tak Lekang Waktu “Don’t Stop Believin’” adalah salah satu lagu paling legendaris dari band rock Amerika, Journey. Dirilis pada tahun 1981 dalam album Escape, lagu ini…

You Missed

Sepatu – Tulus: Kisah Perbedaan dalam Hubungan

Tetap Dalam Jiwa – Isyana Sarasvati: Lagu tentang Kesetiaan Hati

Persija Jakarta Raih Kemenangan Krusial Atas Bhayangkara FC

Madura United Perlihatkan Dominasi Saat Menang Telak Atas Barito Putera

Takkan Terganti – Kahitna: Cinta Sejati yang Selalu Abadi

Pandangan Pertama – RAN: Kasmaran di Awal Pertemuan