
Jakarta, 11 Agustus 2025 — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa ekspor batubara Indonesia pada semester I 2025 mencapai 238 juta ton, sementara total produksi nasional selama periode yang sama telah menembus 357,6 juta ton atau setara 48,34% dari target tahunan 740 juta ton. Angka ini menegaskan peran strategis batubara dalam perekonomian Indonesia, di tengah dorongan global untuk mempercepat transisi energi.
Rincian Capaian Semester I
-
Produksi total: 357,6 juta ton (48,34% target tahunan).
-
Ekspor: 238 juta ton (±66% dari total produksi semester I).
-
Penyaluran domestik (DMO): Sekitar 119,6 juta ton untuk PLTU, industri semen, pupuk, dan industri lainnya.
Pencapaian ini dipengaruhi oleh permintaan global yang tetap kuat, terutama dari Tiongkok, India, dan negara-negara Asia Tenggara yang masih mengandalkan batubara untuk pembangkitan listrik.
Faktor Pendorong Ekspor Tinggi
-
Harga batubara internasional yang stabil di level menguntungkan, meski sempat fluktuatif akibat kondisi geopolitik.
-
Kenaikan permintaan musiman di beberapa negara tujuan ekspor yang tengah menghadapi musim panas dan peningkatan konsumsi listrik.
-
Kontrak jangka panjang dengan pembeli besar di Asia Timur dan Asia Selatan yang memberikan kepastian penyerapan.
Implikasi bagi Perekonomian
Ekspor batubara menjadi penyumbang signifikan bagi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Menurut data ESDM, kontribusi sektor ini pada semester I 2025 mencapai triliunan rupiah, yang membantu menopang APBN di tengah fluktuasi harga komoditas lainnya.
Selain itu, surplus perdagangan yang dihasilkan dari ekspor batubara turut memperkuat cadangan devisa nasional.
Tantangan: Transisi Energi dan Tekanan Lingkungan
Meskipun kinerja ekspor dan produksi tinggi, Indonesia menghadapi tantangan besar:
-
Komitmen penurunan emisi sesuai Perjanjian Paris dan target net zero emission 2060.
-
Diversifikasi energi menuju sumber terbarukan yang lebih bersih.
-
Tekanan dari komunitas internasional dan LSM lingkungan untuk mengurangi ketergantungan pada batubara.
Pemerintah menegaskan bahwa peningkatan produksi batubara tetap akan dibarengi dengan roadmap transisi energi dan investasi pada teknologi bersih seperti carbon capture.
Strategi Pemerintah
Kementerian ESDM menyebutkan beberapa langkah strategis:
-
Memastikan DMO terpenuhi untuk kebutuhan listrik domestik.
-
Mengoptimalkan nilai tambah melalui hilirisasi, seperti gasifikasi batubara.
-
Menjaga keseimbangan ekspor agar tidak mengganggu pasokan domestik.
-
Mendorong investasi di EBT sebagai penyeimbang ketergantungan pada batubara.
Kesimpulan:
Pencapaian ekspor batubara 238 juta ton pada semester I 2025 menunjukkan ketangguhan sektor ini dalam mendukung ekonomi nasional. Namun, keberlanjutan capaian tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia menjaga keseimbangan antara keuntungan ekonomi dan komitmen transisi energi yang ramah lingkungan.