Dalam sejarah sepak bola modern yang kerap dibumbui kisah transfer sensasional dan kepindahan pemain demi gelar atau uang, nama Francesco Totti berdiri sebagai monumen kesetiaan dan cinta sejati terhadap satu klub: AS Roma. Dengan teknik tinggi, visi luar biasa, dan loyalitas tanpa batas, Totti bukan hanya legenda Roma—ia adalah Roma itu sendiri.
Awal Mula: Bocah Ajaib dari Porta Metronia
Francesco Totti lahir pada 27 September 1976 di Porta Metronia, Roma, Italia. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan bakat luar biasa dalam bermain bola. Penampilannya di level junior membuat beberapa klub besar Italia mengincarnya, termasuk AC Milan. Namun, pada usia 13 tahun, ia memilih bergabung dengan akademi AS Roma, klub masa kecilnya, dan mulai menapaki jalan menuju legenda.
Debut dan Awal Karier Profesional
Totti menjalani debut profesionalnya bersama Roma pada 28 Maret 1993, dalam usia 16 tahun, di bawah asuhan pelatih Vujadin Boškov. Meski masih sangat muda, ia segera mencuri perhatian dengan kreativitas, visi, dan kemampuan menembaknya. Dalam beberapa tahun, ia menjadi pusat permainan tim dan mengenakan nomor punggung legendaris 10, warisan para playmaker besar Italia.
Il Capitano: Simbol Kesetiaan Abadi
Totti diangkat menjadi kapten Roma pada usia 22 tahun, menjadikannya salah satu kapten termuda dalam sejarah klub Serie A. Ia kemudian memegang ban kapten selama 19 tahun, hingga pensiun. Selama kariernya, ia menolak tawaran dari klub-klub besar seperti Real Madrid, Milan, dan Juventus, demi satu hal: tetap membela kota dan klub yang dicintainya.
Dengan 785 penampilan dan 307 gol di semua kompetisi untuk AS Roma, Totti adalah pencetak gol terbanyak sepanjang masa klub, serta pemain dengan caps terbanyak dalam sejarah Roma. Ia juga menjadi pencetak gol terbanyak kedua dalam sejarah Serie A, hanya kalah dari Silvio Piola.
Scudetto 2000–01: Gelar yang Tak Tergantikan
Puncak karier Totti di level klub datang pada musim 2000–01, saat ia memimpin AS Roma menjuarai Serie A di bawah pelatih Fabio Capello. Bersama Gabriel Batistuta dan Vincenzo Montella, Totti menjadi bagian dari trio menyerang yang menakutkan dan mengakhiri penantian panjang Roma akan gelar liga.
Gelar tersebut bukan hanya trofi, tapi simbol kemenangan untuk rakyat Roma—dan Totti menjadi pahlawan kota. Perayaan gelar itu diingat sebagai salah satu momen paling emosional dalam sejarah sepak bola Italia.
Di Tim Nasional: Juara Dunia dengan Gaya Totti
Totti membela Timnas Italia dalam 58 laga dan mencetak 9 gol. Ia tampil di Euro 2000, Piala Dunia 2002, dan Euro 2004. Puncaknya datang di Piala Dunia 2006, meski baru pulih dari cedera kaki yang parah. Ia berperan penting dalam membawa Italia ke final dan memenangkan turnamen, termasuk menyumbang beberapa assist dan mencetak penalti krusial melawan Australia di babak 16 besar.
Meski sering kali dibandingkan dengan pemain lain yang lebih eksplosif, gaya bermain Totti yang tenang, penuh kreativitas, dan taktis menjadikannya fondasi permainan Italia saat itu.
Gaya Bermain: Il Re di Roma
Totti adalah arsitek permainan dari belakang striker, meskipun ia juga piawai bermain sebagai penyerang tengah. Ia sering memerankan peran “false nine” sebelum istilah itu menjadi tren modern. Tendangan melengkung, umpan terobosan akurat, dan kemampuan mencetak gol dari berbagai posisi membuatnya berbahaya di seluruh area sepertiga akhir lapangan.
Julukannya “Il Capitano”, “Il Gladiatore”, dan “Il Re di Roma” (Raja Roma) bukanlah berlebihan. Ia adalah pemain yang bisa memimpin tanpa banyak bicara, yang bermain bukan hanya dengan kaki, tapi juga dengan hati dan kecintaan sejati pada lambang Serigala.
Pensiun dan Warisan Abadi
Francesco Totti gantung sepatu pada 28 Mei 2017, dalam suasana yang penuh air mata di Stadion Olimpico. Laga perpisahannya melawan Genoa menjadi momen emosional nasional. Ribuan fans menangis, para pemain memeluknya, dan sepak bola Italia merasa kehilangan salah satu wajah terbaiknya.
Setelah pensiun, Totti sempat menjabat sebagai direktur klub AS Roma, namun mundur pada 2019 karena ketidaksepakatan dengan manajemen baru. Ia kemudian mendirikan agensi manajemen pemain dan terus aktif dalam dunia sepak bola dari luar lapangan.
Kesimpulan:
Francesco Totti bukan hanya legenda AS Roma, tapi simbol dari kesetiaan tanpa syarat, kelas sejati, dan keindahan bermain bola. Dalam dunia yang terus berubah, di mana loyalitas sering jadi mata uang langka, Totti mengajarkan kita bahwa mencintai satu tempat dengan sepenuh hati bisa lebih bermakna dari seribu trofi. Ia bukan sekadar pemain, ia adalah roh dari kota Roma, dan akan selalu dikenang sebagai Pangeran yang tak pernah meninggalkan kerajaannya.