Arctic / Global, 2025 — Selama musim dingin 2024–2025, Kutub Utara mencatat luas es laut (sea ice) musim dingin tahunan paling rendah sepanjang sejarah pengamatan satelit—mencapai titik rendah saat puncak es pada 22 Maret 2025. Fenomena ini menjadi bukti jelas percepatan pemanasan global dan dampaknya pada iklim planet.
❄️ Data Pencairan Minim
-
Menurut National Snow and Ice Data Center (NSIDC), es laut maksimum musim dingin 2025 tercatat sebesar 14,33 juta km² (5,53 juta mil persegi)—terendah sejak pengukuran dimulai pada 1979 Earth Observatory+14National Snow and Ice Data Center+14National Snow and Ice Data Center+14.
-
Nilai ini 1,31 juta km² lebih rendah dari rerata maksimum tahun 1981–2010, dan 80.000 km² di bawah rekor sebelumnya pada 2017 Carbon Brief+2Carbon Brief+2National Snow and Ice Data Center+2.
🔍 Tren & Volume Es yang Menurun
-
Penurunan luas es di awal 2025 bahkan lebih dramatis: pada bulan Februari, cakupan global es laut tercatat pada level terendah sepanjang masa menurut Copernicus Climate Change Service—menurun hingga 8% di Arktik dan 26% di Antarktika Copernicus Climate Change Service+2Copernicus Climate Change Service+2Carbon Brief+2.
-
Volume es laut Arktik di bulan Juni berada di peringkat kedua terendah sepanjang sejarah (sekitar 15.730 km³), mendekati rekor minimum 2017. Ini menunjukkan lapisan es menipis bahkan pada puncaknya psc.apl.uw.edu.
🌡 Pemicunya: Pemanasan Global dan Cuaca Tidak Biasa
-
Tahun 2025 dimulai dengan suhu permukaan global mencapai 1,33 °C di atas rata-rata abad ke-20, dengan Arktik memanas hingga 2–4 °C lebih tinggi dari rata-rata normalnya phys.orguaf.edu.
-
Kombinasi cuaca hangat, angin kuat dari siklon, serta suhu laut meningkat secara signifikan mempercepat pelarutan es, bahkan pada masa pertumbuhan musim dingin The Guardianphys.org.
🌐 Implikasi Global dan Risiko Iklim
-
Ilmuwan memperingatkan tren pencairan ini mengancam dua tujuan mitigasi iklim utama: mempertahankan lapisan es Arktik dan menjaga stabilitas iklim global. Arktik yang tidak beku pada musim panas diprediksi dapat terjadi sebelum tahun 2050 phys.orgThe Guardian.
-
Hilangnya es laut meningkatkan paparan sinar matahari ke permukaan laut (albedo menurun), yang kemudian mempercepat pemanasan—fenomena ini disebut “polar amplification”.
📋 Ringkasan Kondisi
Aspek | Kondisi Terkini |
---|---|
Puncak es laut (Mar 2025) | 14,33 juta km² — rekor minimum dalam 47 tahun pengamatan satelit |
Volume es laut (Juni 2025) | Gagal pulih, tercatat kedua terendah sepanjang sejarah (~15.730 km³) |
Pemicu utama | Pemanasan global, suhu Arktik ekstrem, gangguan cuaca, dan pencairan permukaan laut cepat |
Risiko ke depan | Potensi iklim Non-Arktik tanpa es, gangguan pola cuaca global, wilayah pesisir rentan banjir |
✅ Kesimpulan
Rekor pencairan ekstrim di Kutub Utara musim dingin 2025 menjadi tanda bahwa krisis iklim bukan perkara masa depan lagi, melainkan realitas kini. Dengan pencatatan es laut minimum terendah dan volume menipis drastis, implikasi terhadap iklim regional maupun global makin nyata. Adaptasi dan mitigasi iklim menjadi urgensi mendesak—dengan tindakan global yang lebih ambisius untuk menjaga keberlanjutan planet ini.