Perubahan iklim kini bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan krisis multidimensi yang berdampak langsung terhadap ekonomi, kesehatan, keamanan pangan, dan stabilitas sosial. Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan kekayaan biodiversitas yang tinggi sekaligus kerentanan geografis yang besar, memiliki tanggung jawab penting dalam menghadapi tantangan ini. Di tahun 2025, berbagai langkah konkret harus diambil untuk memastikan keberlanjutan bumi dan keselamatan generasi mendatang.
1. Memperkuat Komitmen terhadap Net Zero Emission
Indonesia telah menyatakan target untuk mencapai net zero emission pada 2060, namun tahun 2025 menjadi titik kritis untuk mempercepat transisi energi bersih. Pemerintah perlu memperkuat komitmen ini dengan menetapkan roadmap transisi yang lebih konkret, termasuk menghentikan pembangunan pembangkit listrik berbasis batu bara, memperbesar porsi energi terbarukan dalam bauran nasional, dan memberi insentif kepada pelaku industri untuk beralih ke praktik ramah lingkungan.
2. Mengakselerasi Penggunaan Energi Terbarukan
Saat ini, kontribusi energi terbarukan di Indonesia masih di bawah 15%. Untuk mencapai target 23% pada 2025, pemerintah harus mendorong pembangunan pembangkit energi surya, angin, dan hidro di berbagai daerah. Kemitraan dengan swasta dan pemangkasan hambatan regulasi juga diperlukan agar investasi dalam sektor ini semakin menarik dan efisien.
Selain itu, pengembangan energi berbasis komunitas—seperti panel surya desa atau mikrohidro—dapat menjadi solusi di wilayah terpencil dan pedalaman.
3. Restorasi Hutan dan Rehabilitasi Lahan Gambut
Deforestasi dan degradasi lahan merupakan kontributor utama emisi karbon Indonesia. Tahun 2025 harus menjadi momentum percepatan restorasi hutan tropis dan lahan gambut yang rusak. Pemerintah melalui program Perhutanan Sosial dan Hutan Desa dapat memperluas partisipasi masyarakat lokal dalam menjaga ekosistem sambil meningkatkan kesejahteraan.
Teknologi pemantauan satelit dan drone juga diintegrasikan untuk mendeteksi pembakaran lahan secara real time dan meningkatkan transparansi penegakan hukum.
4. Perubahan Sistem Pertanian dan Ketahanan Pangan
Sektor pertanian rentan terhadap dampak perubahan iklim seperti gagal panen, kekeringan, dan banjir. Transformasi sistem pertanian menjadi lebih adaptif sangat penting. Pemerintah perlu mengembangkan teknologi pertanian presisi, mengadopsi pola tanam yang ramah lingkungan, dan memperluas sistem irigasi hemat air.
Dukungan terhadap petani kecil dalam bentuk edukasi, bibit unggul tahan cuaca ekstrem, dan asuransi pertanian juga menjadi prioritas kebijakan tahun ini.
5. Penguatan Sistem Transportasi Berkelanjutan
Untuk mengurangi emisi dari sektor transportasi, Indonesia harus mengakselerasi pembangunan transportasi umum rendah emisi seperti kereta listrik, bus listrik, dan jalur sepeda. Stimulus bagi kendaraan listrik dan pembangunan infrastruktur pengisian daya juga perlu ditingkatkan, terutama di kota-kota besar.
Inisiatif Low Carbon City yang sudah dimulai di beberapa kota seperti Jakarta, Surabaya, dan Semarang harus diperluas ke wilayah lain.
6. Edukasi Iklim dan Partisipasi Masyarakat
Kesadaran publik adalah fondasi dari perubahan. Pemerintah perlu memperluas kampanye perubahan iklim melalui pendidikan formal, media sosial, dan komunitas lokal. Generasi muda perlu dilibatkan secara aktif dalam program aksi lingkungan, seperti penanaman pohon, daur ulang, dan inovasi teknologi ramah lingkungan.
Selain itu, regulasi terkait green labeling dan pelaporan emisi untuk pelaku usaha menjadi alat transparansi dan akuntabilitas.
Kesimpulan
Tahun 2025 adalah tahun penting bagi Indonesia untuk mempercepat respons terhadap perubahan iklim. Dibutuhkan langkah konkret, kolaboratif, dan terintegrasi lintas sektor agar dampak perubahan iklim dapat diminimalkan dan ketahanan nasional diperkuat. Dengan sumber daya alam yang kaya dan semangat gotong royong yang kuat, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin regional dalam aksi iklim berkelanjutan.