
Tanggal: 5 Juli 2025
Lembang, Jawa Barat — Sebuah destinasi wisata baru bernama Kampung Langit yang terletak di lereng Gunung Tangkuban Perahu, Lembang, menjadi sorotan wisatawan lokal dan internasional sejak resmi dibuka pada awal Mei 2025. Berkonsep ekowisata terpadu dan konservasi alam, Kampung Langit menawarkan pengalaman menginap dan berekreasi yang menyatu dengan alam tanpa merusak lingkungan.
Dengan luas lebih dari 25 hektare, kawasan ini berhasil memadukan sawah terasering, kebun organik, glamping eco-dome, trekking lembah, observatorium bintang, dan edukasi konservasi satwa lokal dalam satu kompleks terpadu.
Daya Tarik Unik Kampung Langit
Kampung Langit dirancang sebagai komunitas wisata edukatif yang mengutamakan keberlanjutan. Beberapa fasilitas unggulan yang ditawarkan antara lain:
-
Sky Walk Bamboo Bridge: jembatan bambu gantung sepanjang 200 meter di atas lembah yang menampilkan panorama langit Lembang
-
Eco Glamping Dome: penginapan berbentuk kubah dengan energi matahari dan toilet biofilter
-
Hutan Mini Arsitektur: galeri terbuka dari ranting dan kayu daur ulang karya seniman lokal
-
Kebun Langit: wisata petik sayur organik dan workshop fermentasi lokal
-
Planetarium Rakyat: program observasi bintang bersama komunitas astronomi Bandung
Semua kegiatan diatur dengan sistem jejak karbon minimum, termasuk tidak menggunakan kendaraan bermotor dalam kawasan dan penggunaan panel surya untuk semua penerangan.
Antusiasme Wisatawan & Komunitas Lingkungan
Dalam dua bulan pertama pembukaannya, Kampung Langit telah menerima lebih dari 85.000 pengunjung, dengan mayoritas berasal dari Jabodetabek, Surabaya, dan turis mancanegara dari Singapura dan Jerman.
Maria Susanti, traveler eco-trip asal Jakarta, mengatakan:
“Ini pertama kalinya saya glamping di tempat yang benar-benar ramah lingkungan. Bahkan air shower-nya dari tadah hujan!”
Selain itu, komunitas lingkungan seperti Walhi Jawa Barat dan Green Traveler Indonesia menyebut Kampung Langit sebagai contoh wisata regeneratif yang ideal: bukan hanya mempertahankan alam, tapi juga membantu merehabilitasinya.
Pemberdayaan Masyarakat Lokal
Kampung Langit juga mempekerjakan lebih dari 120 warga desa sekitar sebagai guide, koki lokal, pengelola kebun, dan pemandu edukasi. Produk makanan dan oleh-oleh seperti keripik talas organik, selai rosella, dan sabun sereh buatan tangan dijual dengan sistem koperasi desa.
Proyek ini digagas oleh kolaborasi antara BUMDes Cibogo, startup ekowisata LangitKita, dan didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Aksesibilitas dan Reservasi
Kampung Langit bisa diakses 35 menit dari pusat kota Bandung. Namun karena keterbatasan daya tampung dan prinsip keberlanjutan, kunjungan harian dibatasi hanya 500 orang per hari dan sistem reservasi wajib dilakukan via aplikasi resmi KampungLangit.id.
Kesimpulan:
Kampung Langit membuktikan bahwa wisata bukan hanya soal hiburan, tapi juga kontribusi terhadap bumi. Di tengah tren pariwisata massal yang sering abai pada ekologi, destinasi ini menghadirkan harapan baru akan model wisata yang menghargai alam, memberdayakan masyarakat, dan menyentuh kesadaran diri manusia terhadap semesta.