Jakarta, 28 Mei 2026 – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Jambi kembali mengalami penurunan tajam pada periode akhir Mei hingga awal Juni 2026. Berdasarkan hasil penetapan resmi Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, harga TBS sawit untuk kelompok usia tanaman 10–20 tahun turun sebesar Rp515,22 per kilogram menjadi Rp3.303,32 per kilogram. Penurunan tersebut langsung menjadi perhatian para petani karena dinilai cukup drastis dibanding periode sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp3.818 per kilogram. Kondisi ini membuat banyak petani sawit mulai khawatir terhadap pendapatan mereka, terutama di tengah biaya produksi dan kebutuhan operasional kebun yang terus meningkat. Pelemahan harga sawit kali ini disebut berkaitan dengan turunnya harga crude palm oil (CPO) dan inti sawit di pasar global yang menjadi acuan penetapan harga TBS daerah.
Dalam daftar penetapan terbaru, harga sawit berdasarkan usia tanaman juga ikut mengalami penurunan di hampir seluruh kategori umur. Untuk sawit usia tiga tahun misalnya, harga ditetapkan sebesar Rp2.556,09 per kilogram, sementara usia empat tahun Rp2.751,90 per kilogram dan usia lima tahun Rp2.876,75 per kilogram. Kelompok usia produktif 10–20 tahun tetap menjadi harga tertinggi dengan Rp3.303,32 per kilogram, sedangkan usia 21–24 tahun berada di angka Rp3.208,10 per kilogram. Penurunan ini disebut cukup memukul para petani plasma maupun swadaya karena hasil panen sawit menjadi sumber utama penghasilan keluarga di banyak wilayah pedesaan Jambi. Banyak petani berharap harga sawit dapat kembali stabil dalam beberapa pekan mendatang agar kondisi ekonomi mereka tidak semakin tertekan.
Sementara itu, kondisi di tingkat petani mandiri disebut jauh lebih berat dibanding harga resmi penetapan pemerintah. Berdasarkan laporan lapangan dan sejumlah informasi yang beredar di kalangan petani, harga sawit di tingkat pengepul atau toke saat ini berkisar antara Rp2.000 hingga Rp2.800 per kilogram tergantung kualitas buah, lokasi kebun, dan biaya angkut menuju pabrik kelapa sawit. Perbedaan harga tersebut terjadi karena petani mandiri umumnya tidak memiliki akses langsung ke pabrik sehingga harus menjual melalui perantara yang memotong biaya transportasi dan operasional lainnya. Situasi ini membuat sebagian petani merasa keuntungan mereka semakin menipis ketika harga resmi pemerintah turun cukup tajam seperti saat ini. Banyak petani kecil mengaku mulai kesulitan menutupi biaya pupuk, panen, dan perawatan kebun akibat penurunan harga yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
Pengamat perkebunan menjelaskan bahwa harga sawit memang sangat dipengaruhi kondisi pasar global, terutama harga minyak sawit mentah, permintaan ekspor, dan persaingan dengan minyak nabati lain di pasar internasional. Ketika harga CPO turun, maka harga TBS di tingkat daerah biasanya ikut terkoreksi karena menjadi bagian dari rantai produksi industri sawit nasional. Selain faktor global, kondisi distribusi lokal dan posisi tawar petani terhadap pabrik juga memengaruhi harga yang diterima langsung oleh petani di lapangan. Petani mandiri disebut menjadi kelompok paling rentan ketika harga turun karena tidak memiliki perlindungan harga yang kuat dibanding petani plasma perusahaan. Karena itu, banyak pihak mendorong pemerintah daerah dan pelaku industri untuk memperkuat sistem perlindungan harga agar petani tidak terlalu dirugikan saat pasar global melemah.
Anjloknya harga sawit di Jambi kembali menunjukkan betapa besarnya ketergantungan ekonomi masyarakat terhadap komoditas perkebunan tersebut. Bagi banyak keluarga petani, perubahan harga sawit dalam hitungan ratusan rupiah saja dapat berdampak langsung terhadap penghasilan harian dan kemampuan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kondisi ini membuat stabilitas harga TBS menjadi salah satu isu penting yang terus diperhatikan masyarakat di daerah sentra sawit. Banyak petani berharap pemerintah dan pelaku industri dapat menjaga transparansi penetapan harga serta memastikan distribusi keuntungan lebih adil hingga ke tingkat kebun rakyat. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan stabilitas pasar yang lebih baik, sektor sawit diharapkan tetap mampu menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Jambi dalam jangka panjang.







