Jakarta, 1 Oktober 2026 – Bahrain berkomitmen bergabung dengan Task Force Falcon Strike, satuan tugas multinasional dan multidomain yang dibentuk Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) dengan fokus pada kemampuan drone serang. Komitmen tersebut muncul dalam konsultasi militer antara Amerika Serikat dan Bahrain yang berlangsung di Manama pada September 2026. Pertemuan membahas tantangan keamanan regional serta peningkatan integrasi kemampuan pertahanan Bahrain dengan pasukan AS. Keikutsertaan Bahrain menjadi bagian dari upaya memperluas kerja sama pertahanan di kawasan.
Pertemuan tersebut dipimpin bersama oleh pejabat pertahanan AS Michael P. DiMino dan Menteri Urusan Pertahanan Bahrain Letnan Jenderal Abdullah Al-Noaimi. Kedua pihak membahas peluang peningkatan interoperabilitas serta investasi Bahrain pada kemampuan pertahanan udara. Bahrain juga menyatakan komitmen berpartisipasi dalam Falcon Strike sehingga pasukannya dapat semakin memanfaatkan kemampuan sistem nirawak untuk mendukung penangkalan regional. Kerja sama tersebut menjadi bagian dari hubungan pertahanan yang telah lama dijalankan kedua negara.
Task Force Falcon Strike diumumkan CENTCOM pada Agustus 2026 sebagai satuan tugas pertama yang menggabungkan kemampuan drone serang secara multinasional dan multidomain. Satuan ini dirancang menggunakan sistem nirawak sekali serang yang beroperasi dari udara, permukaan laut maupun bawah laut. Personel Amerika Serikat dan negara mitra regional akan terlibat dalam pengoperasian dan integrasi kemampuan tersebut. Staf Falcon Strike dipimpin oleh U.S. Special Operations Command Central.
Pembentukan Falcon Strike merupakan pengembangan dari Task Force Scorpion Strike yang lebih dahulu dibentuk pada Desember 2025. Scorpion Strike menjadi unit khusus militer AS yang menggunakan sistem nirawak sekali serang di kawasan Timur Tengah. CENTCOM kemudian memperluas konsep tersebut dengan mengajak negara-negara mitra untuk bergabung dalam struktur yang lebih terintegrasi. Falcon Strike diharapkan dapat meningkatkan kemampuan koordinasi lintas negara sekaligus memperluas penggunaan teknologi nirawak dalam operasi multidomain.
Keikutsertaan Bahrain juga berlangsung bersamaan dengan rencana penguatan kemampuan pertahanan negara Teluk tersebut. Dalam konsultasi bilateral, kedua negara membicarakan investasi pada kemampuan pertahanan udara, termasuk sistem yang dapat digunakan menghadapi ancaman dari udara. Penguatan kemampuan itu diarahkan untuk meningkatkan interoperabilitas pasukan Bahrain dengan militer Amerika Serikat. Bahrain memiliki posisi strategis dalam arsitektur keamanan kawasan Teluk sehingga kerja sama pertahanannya dengan Washington memiliki cakupan yang luas.
Falcon Strike dibentuk ketika penggunaan drone semakin menonjol dalam dinamika keamanan Timur Tengah. CENTCOM menyatakan kemampuan tersebut akan diperluas seiring bergabungnya mitra regional sehingga terbentuk sistem penangkalan multinasional yang lebih terintegrasi. Model kerja sama ini memungkinkan negara peserta menggabungkan personel, pengalaman operasional dan teknologi dalam satu kerangka koordinasi. Namun, pengembangan kemampuan drone serang juga berlangsung di tengah situasi keamanan regional yang tetap sensitif dan perubahan cepat pada teknologi peperangan modern.
Bergabungnya Bahrain menandai langkah konkret dalam perluasan Task Force Falcon Strike setelah CENTCOM sebelumnya mengundang mitra regional untuk berpartisipasi. Tahap berikutnya akan bergantung pada proses integrasi pasukan Bahrain, pengembangan kemampuan serta koordinasi dengan personel AS dan negara peserta lainnya. Washington memandang peningkatan interoperabilitas sebagai bagian penting dari kerja sama pertahanan dengan Manama. Sementara itu, Falcon Strike diproyeksikan berkembang seiring bertambahnya mitra yang secara resmi bergabung dalam satuan tugas tersebut.





