
Yogyakarta, 15 Juli 2025 – Di tengah maraknya tren makanan cepat saji dan internasionalisasi cita rasa, sebuah gerakan kuliner lokal bernama “Pasar Rasa Tradisi” justru berhasil menarik perhatian publik, terutama generasi muda, untuk kembali mencintai makanan warisan leluhur. Program yang dimulai di Yogyakarta ini berfokus pada revitalisasi resep-resep kuno Nusantara — dari cara memasak, bahan lokal, hingga penyajian asli — dalam bentuk event kuliner dan kelas memasak tematik.
Dalam acara mingguannya di Pendhapa Taman Siswa, pengunjung bisa mencicipi makanan-makanan yang kini jarang ditemukan bahkan di warung tradisional, seperti:
-
Gogik Sapi dari Temanggung
-
Bubur Ase Betawi
-
Botok Tawon dari Blora
-
Kaledo Palu
-
Pinyaram Ketan dari Minangkabau
-
Ayam Betutu asap bambu asli Bali
Menghidupkan Kembali Dapur Nenek Moyang
“Pasar Rasa Tradisi” digagas oleh komunitas Kuliner Lintas Waktu, yang terdiri dari sejarawan makanan, chef muda, budayawan, dan petani organik. Visi mereka adalah mendokumentasikan dan mempraktikkan ulang resep autentik Indonesia yang nyaris punah.
Mereka bekerja sama dengan para simbo, embah, dan nini-nini dapur desa, untuk menggali resep asli yang belum terpengaruh modernisasi. Resep tersebut tidak hanya disalin, tapi juga diperagakan langsung oleh generasi muda dalam format pertunjukan kuliner, lengkap dengan pakaian tradisional dan alat masak seperti tungku tanah liat, lesung kayu, dan kukusan bambu.
“Kami tidak hanya menyajikan makanan, tapi juga menyajikan kenangan,” ujar Chef Gilang Santosa, kurator rasa dalam program ini.
Edukasi Kuliner & Kelas Regenerasi Dapur Tradisi
Gerakan ini juga menyasar edukasi lintas generasi. Mereka membuka kelas “Dapur Warisan” untuk anak muda dan pelajar, di mana peserta belajar:
-
Mengolah bahan lokal seperti singkong, kelapa, dan rempah
-
Teknik fermentasi kuno seperti tapai dan tempe gembus
-
Menyusun bumbu dasar (bumbu genep, bumbu rujak, dll) dari awal
-
Cerita filosofis di balik setiap makanan
Program ini juga menjadi bagian dari kurikulum nonformal di beberapa sekolah seni kuliner dan SMK Pariwisata.
Dampak Sosial & Ekonomi: Kuliner Sebagai Warisan Hidup
Dengan semakin populernya kegiatan ini, banyak warga lokal, khususnya lansia, merasa dihargai karena ilmu dapur mereka kini dianggap aset budaya. Selain itu, produk-produk bumbu rempah hasil olahan lokal mulai dikomersialisasi dalam bentuk pasta rempah, frozen food, dan kit masakan rumahan yang dijual online.
Pemda Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan pun telah menetapkan program ini sebagai bagian dari Strategi Pelestarian Warisan Tak Benda, sekaligus mendorong kuliner tradisional masuk dalam event pariwisata budaya.
Penutup: Makanan Bukan Sekadar Rasa, Tapi Identitas
Gerakan “Pasar Rasa Tradisi” menjadi bukti bahwa kuliner bisa menjadi jembatan antara generasi dan penjaga identitas budaya. Di balik setiap aroma dan rasa masakan kuno, tersimpan sejarah, nilai gotong royong, dan hubungan manusia dengan alam.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan gempuran tren global, generasi muda kini sadar: untuk mencintai Indonesia, salah satunya adalah lewat dapurnya.