Banjarbaru, 5 September 2026 – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Kalimantan Selatan sebagai bagian dari upaya mengendalikan kebakaran hutan dan lahan yang telah berlangsung hampir dua bulan terakhir. Operasi tersebut dimulai dengan menyemai sekitar satu ton garam halus atau natrium klorida (NaCl) ke awan potensial di wilayah utara Kalimantan Selatan. Pesawat PK-SNK diterbangkan dari Lanud Sjamsudin Noor, Banjarbaru, pada Sabtu sore untuk menjalankan penerbangan penyemaian pertama. Pelaksanaan OMC direncanakan berlangsung selama tiga hari hingga 8 September 2026 dengan menyesuaikan perkembangan kondisi atmosfer. BNPB berharap penyemaian dapat mengoptimalkan potensi awan sehingga hujan turun di wilayah yang membutuhkan pembasahan. Hujan tersebut diharapkan membantu operasi darat sekaligus mengurangi risiko meluasnya kebakaran pada kawasan yang masih kering.
Tenaga Ahli Kepala BNPB Brigjen TNI (Purn) Herman Hidayat mengatakan keputusan melaksanakan OMC diambil setelah dilakukan evaluasi bersama terhadap kondisi atmosfer di Kalimantan Selatan. Evaluasi melibatkan tim dari BMKG pusat, unit klimatologi di daerah, serta unsur pemerintah provinsi yang menangani karhutla. Hasil pengamatan menunjukkan terdapat potensi awan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan. Kondisi tersebut menjadi momentum penting karena efektivitas OMC sangat bergantung pada keberadaan awan yang memenuhi persyaratan untuk disemai. BNPB kemudian menyiapkan penerbangan dengan membawa bahan semai NaCl menuju area yang telah ditentukan berdasarkan analisis meteorologi. Pemerintah berharap peluang tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memperkuat pembasahan kawasan rawan kebakaran.
Pada penerbangan pertama, pesawat diarahkan menuju wilayah utara Kalimantan Selatan dengan membawa sekitar satu ton bahan semai. Flight Scientist Coordinator operator OMC Abdul Arsyad menjelaskan pelaksanaan penerbangan selalu mengikuti informasi mengenai posisi dan karakter awan yang diberikan BMKG. Pesawat tidak sekadar terbang menuju lokasi kebakaran karena sasaran utama OMC adalah awan yang mempunyai potensi menghasilkan hujan. Bahan semai kemudian dilepaskan pada bagian awan yang dinilai sesuai untuk mengoptimalkan proses pembentukan dan pertumbuhan butiran air. Apabila kondisi atmosfer mendukung, proses tersebut diharapkan mempercepat turunnya hujan di wilayah sasaran. Pola operasi akan terus disesuaikan karena posisi dan ketersediaan awan dapat berubah dalam waktu relatif cepat.
OMC bukan teknologi untuk menciptakan awan dari kondisi langit yang sepenuhnya cerah, melainkan metode untuk mengoptimalkan awan yang telah terbentuk secara alami. Karena itu, data meteorologi menjadi komponen utama dalam menentukan kapan pesawat diterbangkan dan ke wilayah mana penyemaian diarahkan. Tim harus mengamati kelembapan, arah dan kecepatan angin, perkembangan awan, serta berbagai parameter atmosfer lainnya sebelum menjalankan misi. Jika awan potensial muncul di lokasi tertentu, penerbangan dapat diarahkan untuk mengejar peluang tersebut sebelum kondisi berubah. Fleksibilitas menjadi penting mengingat periode pembentukan awan yang layak disemai dapat berlangsung terbatas. Selama operasi hingga 8 September, tim akan terus melakukan evaluasi untuk menentukan penerbangan berikutnya berdasarkan perkembangan cuaca.
Hujan dari OMC diharapkan memberikan dukungan besar terhadap pemadaman darat, terutama pada kawasan gambut yang menjadi salah satu tantangan utama penanganan karhutla di Kalimantan Selatan. Api pada lahan gambut dapat masuk ke lapisan bawah tanah dan terus membakar material organik meskipun kobaran di permukaan telah berhasil dikendalikan. Bara tersembunyi tersebut dapat bertahan cukup lama serta menghasilkan asap yang terus keluar dari permukaan tanah. Kondisi itu membuat pemadaman membutuhkan pembasahan dalam jumlah besar agar air dapat mencapai lapisan yang masih menyimpan panas. Hujan dengan intensitas memadai membantu meningkatkan kelembapan tanah sekaligus mempercepat proses pendinginan. Pembasahan juga dapat mengurangi kemungkinan bara kembali berkembang menjadi kobaran ketika cuaca panas dan angin meningkat.
Data penanganan beberapa hari terakhir menunjukkan tantangan karhutla di Kalimantan Selatan masih cukup besar. BNPB mencatat puluhan titik api dengan luas lahan terdampak mencapai ratusan hektare, sementara operasi pemadaman terus berlangsung di berbagai lokasi. Pada awal September, data yang dihimpun menunjukkan luas lahan terbakar telah berada di atas 300 hektare dengan sebagian kawasan berhasil ditangani oleh tim gabungan. Angka tersebut dapat berubah mengikuti hasil pendataan dan perkembangan operasi di lapangan. Pemadaman dilakukan melalui kombinasi operasi darat dan udara untuk menjangkau lokasi yang sulit ditangani hanya dengan satu metode. Kondisi gambut membuat proses pendinginan juga harus terus dilakukan setelah api di permukaan dinyatakan padam.
Selain OMC, BNPB telah mengerahkan sejumlah armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla di Kalimantan Selatan. Operasi water bombing menggunakan helikopter dilakukan dengan menjatuhkan air langsung ke kawasan yang terbakar atau masih menyimpan panas. Pada periode sebelumnya, dua helikopter yang aktif dalam satu hari dapat melakukan ratusan kali penjatuhan dengan volume air mencapai lebih dari satu juta liter. Armada patroli udara juga digunakan untuk memantau perkembangan titik api dan membantu menentukan lokasi yang membutuhkan penanganan segera. Informasi dari udara kemudian diteruskan kepada tim darat agar sumber daya dapat diarahkan menuju kawasan prioritas. Kombinasi water bombing, patroli, OMC, dan pemadaman darat menjadi strategi utama untuk mempercepat pengendalian kebakaran.
Teknologi lain juga mulai dimanfaatkan untuk menghadapi karakter kebakaran gambut yang sulit terlihat dari permukaan. BNPB menggunakan drone termal untuk mendeteksi sumber panas yang masih berada di dalam tanah sehingga petugas dapat mengetahui lokasi bara secara lebih tepat. Setelah titik panas ditemukan, tim dapat melakukan pembasahan maupun injeksi bahan pendukung ke lapisan gambut untuk membantu air mencapai area yang masih terbakar. Metode tersebut diperlukan karena menyiram seluruh permukaan tanpa mengetahui posisi bara dapat menghabiskan banyak air dan waktu. Penggunaan teknologi memungkinkan operasi menjadi lebih terarah sekaligus membantu personel memastikan kawasan yang terlihat padam benar-benar telah mengalami pendinginan. Pendekatan ini semakin penting ketika sumber air di sekitar lokasi kebakaran mulai terbatas akibat periode kering berkepanjangan.
Operasi penanganan karhutla di Kalimantan Selatan juga melibatkan ratusan personel dari berbagai unsur. BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah daerah, relawan, serta kelompok masyarakat bekerja bersama melakukan patroli, pemadaman, pendinginan, dan pemantauan kawasan rawan. Personel darat mempunyai peran penting karena tidak semua titik api dapat diselesaikan melalui penanganan udara. Setelah water bombing atau hujan membasahi kawasan, tim tetap perlu mendatangi lokasi untuk memastikan tidak ada bara yang bertahan. Patroli juga dilakukan untuk menemukan kebakaran baru sebelum api berkembang menjadi lebih luas. Koordinasi lintas instansi menjadi penting karena titik karhutla dapat tersebar di banyak wilayah dengan karakter medan yang berbeda.
BNPB berharap pelaksanaan OMC hingga 8 September dapat menghasilkan hujan yang membantu mempercepat pengendalian karhutla di Kalimantan Selatan. Setiap peluang terbentuknya awan potensial akan dipantau agar penyemaian dapat dilakukan pada waktu dan lokasi yang memberikan kemungkinan hasil terbaik. Namun operasi modifikasi cuaca tetap menjadi bagian dari rangkaian penanganan dan tidak menggantikan pemadaman langsung di lapangan. Water bombing, pembasahan gambut, pemantauan menggunakan drone termal, serta operasi personel darat akan terus berjalan sesuai kebutuhan. Pemerintah juga tetap menekankan pentingnya pencegahan agar tidak muncul titik kebakaran baru ketika kondisi cuaca masih kering. Dengan kombinasi berbagai metode tersebut, perluasan kebakaran dan dampak kabut asap terhadap masyarakat Kalimantan Selatan diharapkan dapat semakin ditekan.






