Jakarta, 6 September 2026 – Penggunaan empeng kerap menjadi pilihan orang tua untuk membantu menenangkan bayi ketika rewel maupun menjelang tidur. Namun, kebiasaan tersebut perlu mulai dikurangi ketika anak bertambah usia karena penggunaan dalam jangka panjang dapat memengaruhi pertumbuhan gigi dan rahang. Dokter gigi spesialis anak mengingatkan bahwa tekanan berulang dari empeng dapat memengaruhi posisi gigi ketika struktur mulut masih berada dalam masa pertumbuhan. Risiko menjadi lebih besar apabila anak menggunakan empeng dalam waktu lama setiap hari dan kebiasaan tersebut berlanjut hingga usia balita. Perubahan yang dapat muncul antara lain susunan gigi menjadi tidak sejajar, gigi depan tidak dapat bertemu ketika anak menggigit, hingga perubahan pada bentuk lengkung rahang. Intensitas dan lamanya penggunaan menjadi faktor penting yang menentukan seberapa besar pengaruh empeng terhadap perkembangan rongga mulut. Karena itu, orang tua dianjurkan mulai merencanakan penghentian penggunaan empeng secara bertahap sebelum kebiasaan tersebut menetap.

Dokter gigi spesialis anak drg. Rachmawati menjelaskan bahwa penggunaan empeng pada periode awal kehidupan pada dasarnya tidak selalu menimbulkan masalah. Bayi mempunyai refleks mengisap alami sehingga empeng dapat memberikan rasa nyaman dan membantu menenangkan anak. Persoalan mulai muncul ketika kebiasaan mengisap terus berlangsung pada periode pertumbuhan gigi dan rahang yang semakin aktif. Tekanan empeng yang terjadi berulang kali dapat memengaruhi posisi lidah, gigi, dan jaringan di sekitar mulut. Struktur rahang anak masih berkembang sehingga lebih mudah mengalami perubahan dibandingkan rahang orang dewasa. Semakin lama empeng berada di dalam mulut setiap hari, semakin besar tekanan yang diberikan pada struktur tersebut. Oleh sebab itu, penggunaan sesekali pada bayi mempunyai konsekuensi yang berbeda dibandingkan kebiasaan mengempeng selama berjam-jam pada anak yang sudah lebih besar.

Salah satu perubahan yang paling sering dikaitkan dengan penggunaan empeng berkepanjangan adalah anterior open bite atau gigitan terbuka pada bagian depan. Kondisi tersebut terjadi ketika gigi depan atas dan bawah tidak bertemu meskipun anak sudah menutup rahangnya. Empeng yang terus berada di antara gigi memberikan tekanan dan mempertahankan ruang sehingga pertumbuhan gigi dapat mengikuti pola yang tidak semestinya. Selain gigitan terbuka, anak juga dapat mengalami posterior crossbite atau gigitan silang pada bagian belakang. Pada kondisi tersebut, hubungan antara gigi atas dan bawah menjadi tidak sesuai ketika anak menggigit. Lengkung rahang atas juga dapat berkembang menjadi lebih sempit akibat tekanan yang berlangsung berulang. Perubahan-perubahan itu secara umum termasuk dalam kelompok maloklusi atau ketidaksesuaian hubungan antara gigi dan rahang.

Pengaruh empeng tidak hanya ditentukan oleh usia anak ketika kebiasaan tersebut dihentikan. Frekuensi, durasi setiap kali digunakan, serta intensitas anak mengisap juga mempunyai peranan besar. Anak yang hanya menggunakan empeng sesekali memiliki paparan tekanan yang berbeda dibandingkan anak yang terus menggunakannya sepanjang hari dan ketika tidur. Semakin sering dan kuat kebiasaan mengisap dilakukan, semakin besar kemungkinan struktur gigi dan mulut mendapatkan tekanan secara terus-menerus. Penelitian mengenai perkembangan gigi anak juga menunjukkan penggunaan empeng yang berkepanjangan berkaitan dengan peningkatan kejadian berbagai bentuk maloklusi. Risiko menjadi semakin jelas ketika kebiasaan tersebut berlanjut melewati usia dua hingga tiga tahun. Karena itu, dokter tidak hanya menanyakan apakah seorang anak menggunakan empeng, tetapi juga seberapa sering dan berapa lama kebiasaan tersebut berlangsung.

American Academy of Pediatric Dentistry mencatat penggunaan empeng setelah usia 18 bulan sudah dapat memengaruhi perkembangan kompleks orofasial. Penggunaan yang berlanjut dapat berkaitan dengan gigitan terbuka pada bagian depan, gigitan silang bagian belakang, maupun pola maloklusi tertentu. Kebiasaan mengisap nonnutritif juga dianjurkan sudah dihentikan paling lambat sekitar usia tiga tahun untuk mengurangi risiko perubahan yang menetap. Sejumlah perubahan ringan pada gigi susu masih memiliki kemungkinan membaik setelah kebiasaan mengempeng dihentikan pada waktu yang tepat. Gigi dan rahang anak masih terus berkembang sehingga struktur tersebut mempunyai kemampuan untuk mengalami penyesuaian. Namun, kemungkinan perbaikan bergantung pada usia ketika empeng dihentikan serta tingkat perubahan yang sudah terjadi. Apabila kebiasaan terus berlangsung hingga usia lebih besar, peluang perubahan menjadi semakin menetap dan kebutuhan terhadap perawatan juga dapat meningkat.

Orang tua karena itu tidak perlu langsung panik ketika menemukan anak masih menggunakan empeng pada masa bayi. Hal yang lebih penting adalah mengendalikan penggunaan dan tidak membiarkan empeng menjadi kebiasaan yang terus berlangsung tanpa batas. Ketika anak mulai memasuki usia balita, frekuensi penggunaan dapat dikurangi secara perlahan. Orang tua misalnya dapat membatasi empeng hanya pada waktu tertentu sebelum kemudian mengurangi penggunaannya secara bertahap. Pendekatan perlahan sering kali lebih mudah diterima anak dibandingkan penghentian mendadak, terutama apabila empeng telah menjadi bagian dari cara anak menenangkan dirinya. Orang tua juga dapat mengganti kebiasaan tersebut dengan rutinitas lain seperti membacakan cerita, memeluk anak, atau menciptakan suasana tidur yang nyaman. Tujuannya adalah membantu anak memperoleh rasa aman tanpa terus bergantung pada aktivitas mengisap.

Pemilihan bentuk empeng yang disebut ortodontik juga tidak berarti risiko terhadap pertumbuhan gigi dapat sepenuhnya dihilangkan. Desain tertentu memang dibuat untuk menyesuaikan anatomi rongga mulut, tetapi durasi dan intensitas penggunaan tetap menjadi faktor yang sangat menentukan. Apabila empeng digunakan selama berjam-jam setiap hari hingga bertahun-tahun, tekanan terhadap gigi dan rahang tetap dapat terjadi. Karena itu, mengganti bentuk empeng tidak dapat dijadikan alasan untuk memperpanjang kebiasaan mengempeng. Orang tua tetap perlu memperhatikan kapan penggunaan harus mulai dikurangi dan dihentikan. Pemeriksaan gigi secara rutin juga membantu dokter melihat perkembangan susunan gigi dan hubungan rahang sejak dini. Perubahan yang ditemukan lebih awal umumnya lebih mudah dipantau dan ditangani dibandingkan apabila baru diketahui setelah gigi permanen mulai tumbuh.

Selain perubahan susunan gigi, kebiasaan oral yang berlangsung terlalu lama dapat berkaitan dengan fungsi otot di sekitar mulut. Posisi lidah, bibir, dan pola menelan berkembang bersamaan dengan pertumbuhan struktur wajah anak. Kebiasaan mengisap dalam jangka panjang dapat mempertahankan pola gerakan tertentu yang seharusnya mulai berubah ketika anak memasuki tahap makan dan berbicara yang lebih matang. Namun, tidak semua gangguan pada gigi, rahang, atau fungsi mulut disebabkan oleh empeng. Faktor genetik, kebiasaan mengisap jari, pola bernapas melalui mulut, gangguan saluran pernapasan, dan bentuk rahang bawaan juga dapat memberikan pengaruh. Karena itu, pemeriksaan langsung diperlukan apabila orang tua melihat perubahan pada gigitan anak. Dokter gigi anak dapat menentukan apakah kondisi tersebut masih termasuk variasi perkembangan normal atau membutuhkan pemantauan lebih lanjut.

Tanda yang dapat diperhatikan orang tua antara lain adanya celah antara gigi depan atas dan bawah ketika anak menggigit, gigi depan terlihat semakin maju, atau hubungan gigi kanan dan kiri tampak tidak seimbang. Orang tua juga dapat memperhatikan apabila anak mengalami kesulitan menggigit makanan tertentu atau posisi mulut terlihat berbeda setelah menggunakan empeng dalam waktu panjang. Temuan tersebut tidak otomatis berarti anak membutuhkan perawatan ortodonti. Pada usia dini, sebagian perubahan dapat berkurang secara alami setelah faktor penyebab dihentikan. Pemeriksaan dokter gigi diperlukan untuk melihat tingkat perubahan dan perkembangan rahang secara keseluruhan. Pemantauan menjadi semakin penting apabila kebiasaan mengempeng masih berlangsung mendekati atau melewati usia tiga tahun. Intervensi sejak dini dapat membantu mencegah kebiasaan tersebut memengaruhi perkembangan gigi permanen pada tahap berikutnya.

Penggunaan empeng pada akhirnya tidak harus dipandang sebagai kebiasaan yang selalu berbahaya bagi bayi, tetapi orang tua perlu memahami batas penggunaannya. Empeng dapat memberikan manfaat sebagai alat penenang pada periode awal kehidupan, sedangkan risiko terhadap gigi dan rahang meningkat ketika penggunaannya terlalu sering dan berlangsung hingga usia yang lebih besar. Penghentian secara bertahap sebelum kebiasaan menetap menjadi langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko maloklusi. Orang tua juga tidak perlu menggunakan cara yang membuat anak takut atau merasa dihukum ketika proses pelepasan empeng dilakukan. Rutinitas pengganti dan dukungan yang konsisten dapat membantu anak beradaptasi tanpa ketergantungan pada empeng. Apabila perubahan pada gigi atau rahang sudah terlihat, pemeriksaan ke dokter gigi anak dapat memberikan gambaran mengenai apakah kondisi cukup dipantau atau membutuhkan penanganan. Dengan penggunaan yang terkontrol dan penghentian pada waktu yang tepat, risiko gangguan perkembangan gigi dan rahang akibat kebiasaan mengempeng dapat ditekan.