Jakarta, 20 September 2026 – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melibatkan 44 bupati dalam upaya memperkuat pengembangan industri bioetanol di Indonesia. Kolaborasi dengan pemerintah daerah diarahkan untuk memperluas ketersediaan bahan baku sekaligus membangun ekosistem produksi energi terbarukan berbasis komoditas pertanian. Pemerintah melihat bioetanol sebagai salah satu instrumen untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak impor. Pengembangan industri tersebut juga diharapkan membuka sumber pendapatan baru bagi petani di berbagai daerah. Keterlibatan kepala daerah menjadi penting karena pengembangan bahan baku akan dilakukan sesuai potensi masing-masing wilayah. Pemerintah pusat dan daerah akan menyelaraskan kebutuhan lahan, produksi serta pembangunan industri pengolahan.
Pengembangan bioetanol membutuhkan pasokan bahan baku dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Komoditas seperti tebu menjadi salah satu sumber utama yang dapat dikembangkan untuk mendukung produksi etanol dalam negeri. Pemerintah juga melihat peluang pemanfaatan bahan baku lain yang sesuai dengan karakteristik lahan dan kondisi pertanian setiap daerah. Karena itu, 44 bupati yang dilibatkan diharapkan dapat melakukan pemetaan potensi wilayah secara lebih terperinci. Pemetaan diperlukan agar peningkatan produksi tidak mengganggu kebutuhan pangan maupun komoditas strategis lainnya. Kepastian pasokan menjadi faktor penting sebelum investasi fasilitas pengolahan bioetanol diperluas.
Kementerian Pertanian mendorong agar pengembangan industri tidak berhenti pada peningkatan produksi bahan baku. Hilirisasi menjadi bagian penting sehingga komoditas pertanian dapat menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi sebelum dipasarkan. Kehadiran fasilitas pengolahan di dekat kawasan produksi juga dapat mengurangi biaya logistik sekaligus menciptakan kegiatan ekonomi baru di daerah. Petani berpeluang memperoleh pasar yang lebih pasti apabila rantai pasok antara perkebunan dan industri dapat dibangun secara berkelanjutan. Pemerintah daerah diharapkan membantu menyiapkan dukungan dari sisi tata ruang, infrastruktur serta kemudahan investasi. Sementara itu, pemerintah pusat berperan dalam menyelaraskan kebijakan pertanian dengan kebutuhan sektor energi.
Program bioetanol juga berkaitan dengan rencana peningkatan penggunaan campuran etanol dalam bahan bakar kendaraan. Pemerintah tengah menyiapkan tahapan penerapan campuran yang lebih tinggi sebagai bagian dari strategi menekan konsumsi bensin berbasis fosil. Peningkatan kebutuhan etanol nantinya harus diimbangi dengan kemampuan produksi dalam negeri agar tidak menciptakan ketergantungan baru terhadap bahan baku impor. Karena itu, pembangunan industri hulu dan hilir perlu berjalan secara bersamaan. Produktivitas tanaman, kapasitas pabrik serta jaringan distribusi harus dipersiapkan sebelum penggunaan bioetanol diperluas. Standar kualitas bahan bakar juga menjadi bagian penting untuk memastikan penggunaannya sesuai kebutuhan kendaraan.
Dari sisi daerah, pengembangan bioetanol berpotensi menciptakan lapangan kerja mulai dari sektor perkebunan hingga industri pengolahan. Aktivitas ekonomi dapat berkembang melalui penyediaan bibit, budidaya, transportasi, pengolahan dan berbagai layanan pendukung lainnya. Namun, perluasan produksi tetap membutuhkan perencanaan agar tidak memicu persoalan penggunaan lahan atau mengurangi produksi pangan. Pemerintah juga perlu memastikan petani memperoleh manfaat ekonomi yang seimbang dari meningkatnya permintaan bahan baku. Efisiensi produksi menjadi faktor penting agar harga etanol domestik mampu bersaing dengan sumber energi lainnya. Kolaborasi pemerintah, petani, badan usaha dan investor diperlukan untuk membangun rantai industri yang berkelanjutan.
Keterlibatan 44 bupati diharapkan mempercepat identifikasi daerah yang paling siap menjadi sentra bahan baku maupun lokasi industri bioetanol. Pemerintah akan membutuhkan koordinasi lintas kementerian karena program tersebut menyentuh sektor pertanian, energi, industri, investasi hingga lingkungan. Keberhasilan pengembangan bioetanol juga bergantung pada kepastian pasar sehingga pelaku usaha memiliki dasar untuk menanamkan modal dalam jangka panjang. Apabila pasokan bahan baku dan kapasitas pengolahan dapat ditingkatkan, penggunaan etanol berpotensi membantu mengurangi kebutuhan impor bahan bakar. Pada saat yang sama, hilirisasi dapat memberikan tambahan nilai ekonomi bagi daerah penghasil. Pemerintah menempatkan pengembangan bioetanol sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan produktivitas sektor pertanian nasional.







