Gaza City, Palestina — Ketegangan kembali meningkat di Timur Tengah setelah serangan udara besar-besaran dilakukan oleh militer Israel terhadap beberapa titik di Jalur Gaza pada Kamis malam (11/7). Serangan ini mengakibatkan sedikitnya 17 warga sipil tewas, termasuk anak-anak, dan lebih dari 40 lainnya terluka.
Serangan tersebut dilaporkan sebagai balasan atas roket yang ditembakkan oleh faksi militan Palestina ke wilayah selatan Israel sehari sebelumnya.
Target Serangan: Basis Militan atau Wilayah Sipil?
Juru bicara militer Israel menyatakan bahwa serangan ditujukan ke titik peluncuran roket, gudang senjata, dan pusat komunikasi Hamas. Namun, laporan dari Kementerian Kesehatan Palestina menyebutkan bahwa sebagian besar korban adalah warga sipil yang tinggal di sekitar lokasi tersebut.
Salah satu gedung apartemen yang hancur diketahui dihuni oleh 12 keluarga. Tim medis di Rumah Sakit Al-Shifa melaporkan banyak korban luka berat, termasuk wanita hamil dan anak-anak.
“Kami dikejutkan oleh dentuman keras saat tengah tidur. Semua orang berlarian, banyak yang tertimpa puing,” ujar Mahmud Al-Qassam, warga setempat.
Reaksi Internasional: PBB dan Negara-Negara Arab Bereaksi Keras
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mendesak Israel dan Palestina untuk segera menahan diri dan menghindari siklus kekerasan lebih lanjut. Ia menyebut meningkatnya korban sipil sebagai “situasi kemanusiaan yang sangat mengkhawatirkan”.
Sementara itu, Mesir, Turki, Qatar, dan Yordania mengutuk keras serangan udara tersebut dan menyerukan gencatan senjata segera.
Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi menyatakan dalam pernyataannya, “Kami tidak akan tinggal diam melihat rakyat Palestina dibunuh tanpa ampun. Solusi dua negara harus segera diwujudkan.”
Eskalasi Kekerasan Semakin Tak Terkendali?
Analis menyebutkan bahwa konflik terbaru ini bisa menjadi eskalasi terbesar sejak perang 2021, jika tidak segera diredam. Ketegangan antara Israel dan Hamas dalam beberapa pekan terakhir memang meningkat tajam, dengan insiden serangan lintas perbatasan yang terus berulang.
Warga Gaza kini menghadapi kondisi darurat, dengan listrik hanya menyala 3 jam per hari dan akses keluar masuk yang semakin dibatasi akibat blokade Israel.