Batang, 22 September 2026 – Sebanyak 276 orang di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Korban terdiri dari siswa serta sejumlah orang tua yang ikut mengonsumsi makanan yang dibawa pulang anak mereka. Keluhan yang muncul antara lain mual, pusing, diare, dan gangguan pencernaan beberapa jam setelah makanan dikonsumsi. Pemerintah Kabupaten Batang telah mengerahkan fasilitas kesehatan untuk memberikan penanganan kepada para korban. Jumlah korban masih terus dipantau karena sebelumnya mengalami peningkatan dalam waktu relatif singkat.
Kasus tersebut terjadi pada penerima manfaat MBG dari 11 lembaga pendidikan di Kecamatan Bawang. Dapur yang memasok makanan kepada sekolah-sekolah tersebut setiap harinya melayani sekitar 2.700 penerima manfaat. Para siswa mengonsumsi makanan di sekolah sekitar pukul 11.00 WIB sebelum sebagian mulai mengalami keluhan beberapa jam kemudian. Sejumlah siswa juga membawa sisa makanan ke rumah sehingga kemudian ikut dikonsumsi anggota keluarga. Kondisi itu menyebabkan beberapa orang tua mengalami gejala serupa meskipun bukan penerima langsung program MBG.
Pemerintah daerah menyiapkan sejumlah fasilitas kesehatan untuk menangani korban yang membutuhkan pemeriksaan dan perawatan. Penanganan dilakukan di beberapa puskesmas dan rumah sakit di wilayah Kabupaten Batang. Pemerintah juga menyiapkan kemungkinan penggunaan fasilitas kesehatan lain apabila jumlah pasien bertambah dan kapasitas pelayanan mengalami tekanan. Tenaga kesehatan diminta memberikan penanganan maksimal kepada seluruh korban hingga kondisinya pulih. Pemantauan terhadap pasien dilakukan untuk memastikan tidak terjadi perkembangan kondisi yang lebih serius.
Dinas Kesehatan Kabupaten Batang telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium. Berdasarkan keterangan awal sejumlah korban, olahan telur menjadi salah satu menu yang dicurigai berkaitan dengan munculnya keluhan. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium tersedia. Pemerintah daerah meminta masyarakat tidak menyimpulkan penyebab keracunan hanya berdasarkan jenis makanan tertentu. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat kontaminasi maupun faktor lain selama proses pengolahan dan distribusi makanan.
Sebagai langkah pencegahan, operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan tersebut dihentikan sementara. Penghentian dilakukan agar proses pemeriksaan dan evaluasi dapat berlangsung tanpa distribusi makanan tambahan dari dapur yang sama. Pengelolaan dapur, proses memasak, penyimpanan bahan makanan, hingga distribusi akan menjadi bagian dari evaluasi. Pihak yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan SPPG juga akan dimintai keterangan mengenai penerapan standar operasional. Pemerintah daerah menempatkan keselamatan penerima manfaat sebagai prioritas selama proses pemeriksaan berlangsung.
Kegiatan belajar mengajar di sekolah yang terdampak tetap dapat berlangsung bagi siswa yang berada dalam kondisi sehat. Sementara siswa yang masih mengalami keluhan atau menjalani perawatan diminta beristirahat hingga kondisinya benar-benar pulih. Sekolah juga diharapkan terus berkoordinasi dengan orang tua apabila muncul keluhan kesehatan baru setelah konsumsi makanan. Pendataan terhadap siswa dan anggota keluarga yang mengalami gejala masih dilakukan. Langkah tersebut diperlukan agar seluruh korban dapat memperoleh pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
Hasil laboratorium akan menjadi dasar untuk menentukan penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut sekaligus langkah evaluasi berikutnya terhadap penyelenggaraan MBG di Kecamatan Bawang. Pemeriksaan menyeluruh diperlukan untuk memastikan keamanan bahan makanan, proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi kepada siswa. Pemerintah daerah juga akan mengevaluasi penerapan prosedur keamanan pangan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. Operasional dapur dapat menjadi bagian dari keputusan lanjutan setelah proses pemeriksaan selesai. Kasus yang melibatkan 276 siswa dan orang tua tersebut menjadi perhatian karena menyangkut keamanan makanan yang diberikan kepada ribuan penerima manfaat setiap hari.






