Bogor, 4 September 2026 – Kebakaran melanda sebuah toko sepatu yang berada di Jalan Dewi Sartika, tepat di seberang Alun-Alun Kota Bogor, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, pada Jumat malam. Api membakar bagian dalam toko sekaligus menghanguskan berbagai barang dagangan yang tersimpan di lokasi. Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bogor memperkirakan kerugian material yang dialami pemilik mencapai sekitar Rp350 juta. Tidak terdapat korban luka maupun korban jiwa dalam kejadian tersebut karena toko sudah dalam kondisi tutup ketika kebakaran diketahui. Petugas berhasil melakukan penanganan hingga situasi di lokasi dinyatakan aman dan terkendali.

Kebakaran pertama kali diketahui sekitar pukul 18.30 hingga 19.00 WIB ketika warga dan pegawai yang masih berada di sekitar kawasan melihat asap keluar dari bangunan. Pada awalnya, kepulan asap putih yang terlihat dari bagian atas toko sempat dikira berasal dari aktivitas pembakaran di kawasan permukiman belakang bangunan. Namun, asap semakin lama terlihat semakin tebal sehingga menimbulkan kecurigaan bahwa telah terjadi kebakaran di dalam toko. Warga kemudian menghubungi petugas pemadam kebakaran untuk meminta penanganan. Ketika akses menuju toko berhasil dibuka, api sudah terlihat cukup besar di bagian dalam bangunan.

Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bogor M Ade Nugraha menyatakan objek yang terbakar merupakan toko penjualan sepatu di seberang Alun-Alun Kota Bogor. Saat kejadian, aktivitas perdagangan telah selesai dan toko dalam kondisi tutup. Kelistrikan di dalam toko juga disebut sudah dimatikan sebelum kebakaran diketahui. Kondisi tersebut menjadi salah satu informasi awal yang diperoleh petugas dalam menangani kejadian. Penyebab pasti munculnya api masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut sehingga tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan kondisi kelistrikan ketika toko ditinggalkan.

Proses pemadaman menghadapi tantangan karena terdapat banyak barang yang mudah terbakar di dalam toko. Selain sepatu dan sandal yang menjadi barang dagangan utama, terdapat kardus, karung, serta material berbahan karet yang dapat membantu api berkembang dengan cepat. Banyaknya barang yang tersimpan membuat asap pekat memenuhi bagian dalam bangunan ketika proses pemadaman berlangsung. Petugas harus masuk dan melakukan penyemprotan secara bertahap untuk memastikan api dapat dijangkau hingga bagian yang tertutup barang. Kondisi tersebut juga membuat proses pemeriksaan setelah pemadaman menjadi penting karena bara dapat bertahan di antara tumpukan material.

Lokasi kebakaran yang berada di kawasan pusat Kota Bogor turut menarik perhatian warga. Alun-Alun Kota Bogor dan Jalan Dewi Sartika merupakan kawasan dengan aktivitas masyarakat yang cukup tinggi sehingga kepulan asap dari toko dapat terlihat oleh banyak orang. Sejumlah warga sempat berkumpul di sekitar lokasi ketika petugas melakukan pemadaman. Pengamanan area diperlukan agar masyarakat tidak terlalu dekat dengan bangunan yang terbakar dan tidak menghambat pergerakan personel maupun armada pemadam. Petugas juga harus mempertimbangkan keberadaan bangunan pertokoan lain di sekitar lokasi agar api tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Tidak adanya korban menjadi salah satu hal penting dalam penanganan kejadian tersebut. Kondisi toko yang sudah tutup membuat tidak terdapat pengunjung di dalam bangunan ketika api berkembang. Petugas juga memastikan proses pemadaman berlangsung dengan aman tanpa laporan korban luka maupun meninggal dunia. Meski demikian, kerugian ekonomi yang dialami pemilik cukup besar karena banyak barang dagangan ikut terbakar. Berdasarkan perhitungan awal, total kerugian diperkirakan berada di kisaran Rp350 juta, meskipun pendataan lebih rinci tetap dapat dilakukan untuk mengetahui nilai kerusakan secara keseluruhan.

Setelah kobaran api berhasil dikuasai, petugas melanjutkan operasi dengan melakukan pendinginan pada bagian-bagian yang masih menyimpan panas. Tahapan tersebut sangat penting pada kebakaran toko karena barang seperti kardus, karet, dan berbagai material dagangan dapat menyimpan bara dalam waktu cukup lama. Petugas perlu membongkar dan memeriksa tumpukan barang untuk memastikan tidak terdapat titik api tersembunyi. Apabila bara tidak sepenuhnya dipadamkan, udara yang kembali masuk ke dalam ruangan dapat memicu api menyala kembali. Pemeriksaan menyeluruh dilakukan sampai kondisi bangunan dinilai tidak lagi memiliki potensi kebakaran lanjutan.

Penyelidikan mengenai penyebab kebakaran selanjutnya dapat dilakukan setelah lokasi dinyatakan aman. Pemeriksaan akan mempertimbangkan titik awal munculnya api, kondisi instalasi listrik, barang yang berada di sekitar sumber kebakaran, serta aktivitas terakhir sebelum toko ditutup. Keterangan pegawai dan warga yang pertama kali mengetahui kemunculan asap juga dapat membantu memperjelas kronologi. Fakta bahwa listrik toko disebut telah dimatikan menjadi salah satu informasi yang perlu dicocokkan dengan hasil pemeriksaan teknis. Penentuan penyebab tetap membutuhkan bukti lapangan sehingga berbagai dugaan yang berkembang belum dapat dijadikan kesimpulan.

Kejadian tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya sistem perlindungan kebakaran pada bangunan usaha yang menyimpan barang dalam jumlah besar. Alat pemadam api ringan, instalasi listrik yang diperiksa secara berkala, detektor asap, akses darurat, serta pengaturan penyimpanan barang dapat membantu mengurangi risiko apabila kebakaran muncul. Pemilik usaha juga perlu memastikan bahan mudah terbakar tidak ditempatkan terlalu dekat dengan sumber panas maupun perangkat kelistrikan. Pemeriksaan sebelum toko ditutup dapat menjadi bagian dari prosedur rutin, terutama pada tempat usaha dengan jumlah stok yang besar. Langkah pencegahan sederhana dapat memberikan waktu tambahan untuk mendeteksi gangguan sebelum berkembang menjadi kebakaran besar.

Kebakaran toko sepatu di depan Alun-Alun Kota Bogor tersebut menyebabkan kerugian material sekitar Rp350 juta tanpa menimbulkan korban jiwa maupun luka. Respons warga yang segera melaporkan kemunculan asap membantu petugas memperoleh informasi sebelum api berpotensi menjalar lebih jauh ke kawasan pertokoan lainnya. Setelah pemadaman dan pendinginan selesai, perhatian berikutnya diarahkan pada pemeriksaan penyebab serta pendataan keseluruhan kerusakan yang dialami pemilik. Kejadian ini juga menjadi pengingat bagi pengelola bangunan komersial untuk memperkuat langkah pencegahan dan memastikan perangkat keselamatan kebakaran tersedia serta berfungsi dengan baik. Evaluasi menyeluruh diharapkan dapat membantu mengetahui pemicu kebakaran sekaligus menjadi dasar untuk mencegah kejadian serupa di kawasan perdagangan Kota Bogor.