Banjarmasin, 14 September 2026 – Polda Kalimantan Selatan membuka layanan ante mortem dan post mortem untuk mendukung proses identifikasi korban kecelakaan Kapal Virgo yang ditemukan dalam operasi pencarian di perairan Laut Jawa. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan identitas setiap korban dapat diketahui secara akurat sebelum proses penyerahan kepada keluarga dilakukan. Tim kepolisian menghimpun data ante mortem dari keluarga orang yang dilaporkan menjadi penumpang maupun awak kapal, kemudian membandingkannya dengan data post mortem dari pemeriksaan korban. Proses pencocokan menjadi sangat penting karena kecelakaan laut dapat menyebabkan kondisi korban sulit dikenali hanya melalui pengamatan visual. Pemeriksaan dilakukan menggunakan prosedur identifikasi yang mempertimbangkan berbagai data primer maupun sekunder. Polda Kalsel juga mendorong keluarga yang memiliki anggota keluarga dalam daftar korban untuk memberikan informasi selengkap mungkin kepada petugas.
Data ante mortem merupakan informasi mengenai seseorang yang diperoleh ketika masih hidup dan dapat digunakan sebagai pembanding dalam proses identifikasi. Keluarga dapat memberikan keterangan mengenai ciri fisik, tanda khusus pada tubuh, kondisi gigi, riwayat medis, maupun informasi lain yang diketahui secara pasti. Dokumen dan foto tertentu juga dapat membantu petugas memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai korban. Dalam kondisi tertentu, informasi mengenai perawatan gigi memiliki nilai penting karena karakteristiknya dapat berbeda pada setiap individu. Keluarga perlu memberikan keterangan secara teliti agar data yang dimasukkan benar-benar sesuai dengan orang yang sedang dicari. Seluruh informasi tersebut kemudian disusun secara sistematis untuk dibandingkan dengan hasil pemeriksaan korban yang ditemukan.
Sementara itu, data post mortem diperoleh melalui pemeriksaan terhadap jenazah setelah berhasil dievakuasi. Pemeriksaan dapat mencakup sidik jari apabila kondisinya memungkinkan, karakteristik gigi, ciri fisik tertentu, hingga pemeriksaan DNA apabila diperlukan. Barang yang ditemukan bersama korban juga dapat menjadi informasi pendukung, tetapi tidak dapat selalu digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk memastikan identitas. Dalam kecelakaan laut, barang pribadi dapat terlepas atau berpindah sehingga proses identifikasi membutuhkan metode yang lebih kuat. Petugas harus memastikan terdapat kesesuaian yang dapat dipertanggungjawabkan sebelum identitas dinyatakan terkonfirmasi. Ketelitian menjadi prinsip utama karena kesalahan identifikasi dapat memberikan dampak sangat besar terhadap keluarga.
Pemeriksaan DNA dapat digunakan ketika metode identifikasi lainnya belum memberikan kepastian yang memadai. Dalam proses tersebut, sampel dari korban dapat dibandingkan dengan sampel keluarga biologis untuk mengetahui adanya hubungan genetik. Pengambilan sampel dari keluarga harus mengikuti prosedur agar kualitas pemeriksaan tetap terjaga dan hasilnya dapat digunakan secara akurat. Waktu yang dibutuhkan dapat berbeda bergantung pada kondisi sampel dan kompleksitas proses pencocokan. Karena itu, keluarga diharapkan memahami bahwa identifikasi tertentu tidak selalu dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Kecepatan tetap menjadi perhatian, tetapi ketepatan hasil harus ditempatkan sebagai prioritas agar tidak terjadi kekeliruan.
Pembukaan layanan tersebut juga berkaitan dengan operasi pencarian Kapal Virgo yang masih melibatkan berbagai unsur SAR dan maritim. Setiap korban yang ditemukan perlu segera didata sejak proses evakuasi sehingga informasi mengenai lokasi, waktu, dan kondisi penemuan dapat terdokumentasi. Data tersebut kemudian menjadi bagian dari rangkaian penanganan sebelum pemeriksaan identifikasi dilakukan. Koordinasi antara tim SAR, kepolisian, tenaga kesehatan, dan petugas identifikasi diperlukan agar tidak terdapat informasi yang terputus selama proses pemindahan korban. Setiap tahapan harus memiliki dokumentasi yang jelas untuk memastikan seluruh korban dapat ditangani secara sistematis. Dengan jumlah orang yang terlibat dalam kecelakaan cukup besar, pengelolaan data menjadi salah satu aspek yang sangat penting.
Keluarga korban memiliki peran penting dalam proses ante mortem karena mereka dapat memberikan informasi yang tidak tersedia dalam dokumen perjalanan. Petugas dapat menanyakan pakaian terakhir yang digunakan, ciri tubuh, bekas luka, operasi yang pernah dijalani, maupun informasi mengenai kondisi gigi. Apabila tersedia, keluarga juga dapat membawa dokumen pendukung yang membantu memperkuat data tersebut. Namun, petugas tetap harus melakukan verifikasi karena ingatan maupun informasi dari beberapa anggota keluarga dapat memiliki perbedaan. Seluruh data perlu dicatat secara hati-hati sebelum digunakan sebagai pembanding. Pendekatan tersebut bertujuan memastikan proses identifikasi tidak hanya cepat, tetapi juga memiliki tingkat akurasi yang tinggi.
Pelayanan terhadap keluarga juga membutuhkan pendekatan yang sensitif mengingat mereka sedang menghadapi ketidakpastian mengenai kondisi anggota keluarganya. Proses memberikan data ante mortem dapat menjadi pengalaman emosional karena keluarga harus menjelaskan berbagai karakteristik orang yang masih dalam pencarian. Petugas perlu memberikan penjelasan mengenai tujuan pengumpulan data serta tahapan yang akan dilakukan setelah informasi diterima. Keluarga juga sebaiknya memperoleh pembaruan melalui jalur resmi agar tidak terpengaruh kabar yang belum terverifikasi. Apabila terdapat kecocokan awal, informasi tetap harus melalui tahapan konfirmasi sebelum identitas diumumkan secara pasti. Komunikasi yang tertib dapat membantu mengurangi kesimpangsiuran di tengah operasi pencarian yang masih berlangsung.
Hasil identifikasi juga memiliki hubungan langsung dengan pembaruan data korban kecelakaan Kapal Virgo. Setiap identitas yang berhasil dipastikan dapat digunakan untuk memperbarui daftar korban meninggal, sementara data korban selamat terus dicocokkan dengan manifest maupun laporan keluarga. Proses tersebut membantu petugas mengetahui secara lebih tepat jumlah orang yang masih menjadi sasaran pencarian. Ketidakakuratan data dapat menyebabkan perbedaan angka dan menyulitkan keluarga memperoleh kepastian. Karena itu, proses identifikasi dan verifikasi manifest harus berjalan secara beriringan. Informasi yang diumumkan kepada masyarakat perlu berdasarkan data yang telah diperiksa sehingga tidak berubah hanya karena laporan yang belum dikonfirmasi.
Selain identifikasi, pemerintah daerah dan fasilitas kesehatan juga harus tetap bersiap memberikan pelayanan kepada korban yang ditemukan dalam keadaan selamat. Penyintas dapat membutuhkan pemeriksaan karena mengalami kelelahan, dehidrasi, luka, atau dampak lain setelah berada di laut. Penanganan korban selamat dan identifikasi korban meninggal merupakan dua bagian yang berjalan bersamaan dalam operasi tersebut. Di sisi lain, pencarian terhadap mereka yang belum ditemukan tetap menjadi prioritas tim SAR. Seluruh unsur membutuhkan pertukaran data yang cepat agar status setiap orang dapat diperbarui setelah ditemukan. Sistem koordinasi yang baik akan membantu mengurangi risiko kesalahan pencatatan maupun informasi ganda.
Pembukaan layanan ante mortem dan post mortem oleh Polda Kalimantan Selatan menjadi bagian penting dalam memberikan kepastian kepada keluarga korban Kapal Virgo. Proses identifikasi dilakukan melalui pencocokan berbagai informasi dengan mengutamakan ketelitian serta metode yang dapat dipertanggungjawabkan. Keluarga diharapkan membantu dengan memberikan data yang lengkap dan akurat mengenai anggota keluarga yang berada dalam perjalanan kapal tersebut. Sementara itu, tim identifikasi akan terus berkoordinasi dengan unsur SAR dan tenaga kesehatan untuk menangani setiap korban yang berhasil ditemukan. Operasi pencarian di Laut Jawa juga tetap dilanjutkan selama masih terdapat penumpang maupun awak yang belum diketahui keberadaannya. Melalui kerja terkoordinasi tersebut, setiap korban yang ditemukan diharapkan dapat segera memperoleh kepastian identitas sehingga keluarga mendapatkan informasi yang jelas mengenai anggota keluarganya.





